Ketika Sang Guru Pergi

Meninggalkan tempat kita bekerja untuk pindah ke tempat kerja lain tentu bukan hal yang mudah untuk kita tinggalkan begitu saja. Ada sebuah keberanian untuk mengambil keputusan semua itu. Umur dua tahun tentu memberikan kenangan tersendiri bagi seseorang ketika akan meniggalkan tempat kerjanya.

sebut saja seorang guru yang memiliki konsep  mengajar yang kreatif tidak mau terpaku pada materi yang ada di buku. Ia menggali dan menggabungkan dengan berbagai teori yang ia dapatkan. Berfikir kreatif sangat ia perlukan ketika kondisi tempat ia mengajar masih sangat minim dengan fasilitasnya.

Dua tahun sang guru memberikan ilmunya kepada murid-muridnya dengan penggabungan berbagai metode. Dari mulai berakting dikelas, bernyanyi, belajar di pinggir sungai. Setelah dua tahun mengajar sang guru memutuskan untuk meninggalkan sekolah itu. Keputusan itu tidak lain karena pilihan hidup.

Kepergiannya sangat disesalkan oleh murid-muridnya. Karena menurut mereka sang guru adalah sosok yang sangat menyenangkan dengan caranya mengajar. Sang guru sering mengajak bercanda dan berbincang-bincang dengan murid-muridnya selayaknya dengan teman sendiri. Tidak ada sekat antara guru dengan murid.

Satu bulan kemudian sang guru pergi untuk menjenguk sekolahnya. Baru saja menginjakan kakinya sang guru langsung disambut oleh murid-muridnya sambil memeluk dan menangis.

Melihat keadaan itu sang guru  meminta maaf kepada murid-muridnya jika keputusan yang ia ambil meninggalkan rasa haru yang dalam. Padahal selama ia mendampingi murid-muridnya ia tegas. Ia sering memukul muridnya jika melakukan kesalahan. Menjewernya.

Namun murid-muridnya tidak pernah merasa marah ketika sang guru memukulinya. Karena itu adalah bentuk perhatian dari seorang guru kepada muridnya.

“ Guru bisakah kembali mengajar kami? “. Pinta seorang murid perempuan

“ Ya Guru, kembalilah mengajar disini. Kami sangat kehilangan.

“ Mengajarkan Ilmu tidak harus di sekolah, tapi jika suatu saat kita bertemu lagi, saya akan masih tetap mengajarkan ilmu yang saya miliki sebagaimana ketika aku masih disini”.

Beberapa saat kemudian sang guru berpamitan dengan iringan isak tangis dari murid-muridny

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: