Bentrok dengan TNI, Anak Semakin Trauma

Ada yang mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri seribu bencana. Perkataan ini tidak disalahkan dengan melihat pada kenyataan yang terjadi selama ini. Hampir semua bencana pernah melanda Negara Indonesia. Mulai dari bencana alam – Gunung meletus, tanah longsor, banjir, Angin putting beliung- sampai bencana akibat perilaku manusia itu sendiri seperti kebakara, gedung ambruk bahkan peperangan dengan sesama warga Indonesia sendiri.

Didalam undang-undang no 24 tahun 2007 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan kehidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan atau non alam ataupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Akibat bencana yang terjadi kalau kita hitung antara manfaat dan kemadlorotannya maka lebih banyak madlorotnya atau sisi negatifnya. Manusia dan alam akan menjadi korban yang paling merasakan dampaknya.

Sebagaimana kejadian yang terjadi pada tanggal 16 Maret 2011 di Desa Setrojenar Kec. Buluspesantren Kebumen Jawa Tengah bentrok antara warga dengan TNI merupakan sebuah bencana yang terjadi akibat prilaku manusia. Dampak dari kerusuhan di desa Setrojenar selain menimbulkan korban dimasing-masing pihak- yang paling banyak warga – namun meninggalkan beban psikologis atau trauma bagi anak-anak

Melihat secara langsung bagaimana pihak TNI menodongkan senjatanya, menembaki warga bahkan sampai untuk memukuli warga merupakan sebuah gambaran atau memori yang sangat sulit untuk dihilangkan dalam pikiran anak-anak. Contoh saja bagaimana cerita salah seorang warga Setrojenar yang tidak kuasa menahan sedih dan tangisnya saat anaknya yang berumur tiga tahun berlari ketakutan saat melihat ayahnya berjalan bersama tiga temannya menuju rumahnya setelah bentrok dengan TNI selesai,

Atau bagaimana suasana di rumah Kyai Imam Zuhdi yang biasanya selalu ramai dengan anak-anak untuk mengaji Qiroati berubah sepi senyap karena mereka masih ketakutan dengan kejadian kemarin. Perilaku kekerasan yang dilakukan oleh TNI tentu akan menjadi memori kelam sepanjang hidup bagi anak-anak.

Penanganan terhadap kasus ini oleh beberapa pihak jangan hanya Cuma dari segi tindak pidananya saja tetapi juga bagaimana memulihkan kembali rasa aman dan nyaman bagai warga Setrojenar untuk bisa beraktifitas sebagaimana mestinya. Selain itu yang lebih penting lagi adalah menghilangkan rasa takut yang berkepanjangan pada warga setempat.

Ketika rasa takut masih menghinggapi diri warga setelah bentrok kemarin, masyarakat belum merasa nyaman dan aman. Jika memang diperlukan tarik semua aparat keamaan yang masih berjaga-jaga. Karena symbol-simbol apapun yang melekat di tubuh aparat tentu akan menjadi kenangan yang memilukan bagi anak-anak terutama.

Bisa jadi anak-anak di desa Setrojenar tidak lagi memiliki cita-cita untuk menjadi seorang perwira ABRI atau TNI karena tindak kekerasan yang dilakukakan terhadap ayah dan saudara-saudaranya. Mereka akan bercita-cita menjadi petani yang selalu menjaga, merawat bumi beserta isinya.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: